Sabtu, 21 Februari 2009


Penyair

Chairil Anwar

Nama penyair Chairil Anwar adalah identik dengan kesusastraan Indonesia. Setiap orang Indonesia yang telah mengecap pendidikan formal pasti mengenal namanya. Ini menunjukkan bahwa Chairil Anwar sangat dikenal sebagai sastrawan, khususnya penyair. Walaupun Chairil Anwar meninggal dalam usia yang relatif muda 27 tahun, tetapi melalui karya-karyanya ia membuktikan kata-kata dalam sajaknya, Sekali berarti setelah itu mati dan Aku mau hidup seribu tahun tahun lagi.

Chairil hadir pada situasi peralihan yang penuh gejolak. Sebuah transisi dari situasi terjajah menuju kemerdekaan. Penolakan terhadap kolonialisme dan pemikiran dunia yang muncul pada masa Perang Dunia II ikut membentuknya. Surat Kepercayaan Gelanggang merupakan wujud penolakan Chairil dan teman-temannya terhadap pengertian kebudayaan nasional sebagai kegiatan melap-lap kemudian lama yang lapuk. Kebudayaan menurut mereka adalah cara suatu bangsa mengatasi masalah yang lahir dari situasi zaman dan tepat.

Chairil Anwar menjadi sangat terkenal karena dua hal. Pertama, ia menulis sajak-sajak bermutu tinggi dengan jenis sastra yang menyandang suatu ideologi atau pemikiran besar tertentu seperti perang, revolusi dan sebagainya. Ahli sastra menyebut sastra jenis ini dengan istilah Sastra Mimbar, yaitu jenis sastra yang secara tematis sangat erat hubungannya dengan keadaan dan persoalan zaman. Hal itu dapat berupa tanggapan dari persoalan-persoalan besar di zaman itu. Beberapa karya Chairil Anwar yang termasuk sastra mimbar adalah Aku, Perjanjian Dengan Bung Karno, Catatan Tahun 1946 dan Kerawang Bekasi.

Kedua, ia juga menulis sajak-sajak yang menjadi bahan perenungan yang temanya lebih kepada persoalan-persoalan keseharian. Ahli sastra menyebutnya Sastra Kamar. Karya Chairil yang digolongkan kedalam jenis ini adalah Senja di pelabuhan, Derai-Derai Cemara, Penghidupan. Pengolahan bahasa sajak-sajak Chairil sangat khas dan spesifik.

Chairil telah membuka kemungkinan yang sangat tak terduga. Ia membawa suasana, gaya, ritme, tempo, nafas, kepekatan dan kelincahan yang mengagumkan kepada sastra Indonesia. Sampai saat ini masih terasa pengaruh bahasa sajak Chairil ikut membawa warna perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Chairil mampu melepaskan bahasa dari lingkungan kaidah baku bahasa, yang mungkin secara tata bahasa menyalahi aturan, tetapi sebagai sarana ekspresi sangat fungsional dan indah. Begitu kuatnya pengaruh Chairil di dalam mengolah pengucapan bahasa sajak, menyebabkan penyair-penyair sesudahnya meneladani cara pengolahan bahasa sajaknya.

Chairil tidak setengah-setangah dalam menggeluti dan menjalani prisnsip hidupnya. Ia dapat mengungkap sesuatu persoalan dengan luas karena pengalaman dan perjalanan hidupnya yang luas pula. Ia juga seorang yang sangat gemar membaca. Apalagi kegemaran\nya ditunjang oleh kemampuannya berbahasa asing seperti Jerman, Belanda dan Inggris dengan baik. Melalui penguasaan bahasa itulah ia memperoleh informasi dari pihak pertama.

Dunia kesusastraan sebagai pilihan hidupnya dijalaninya dengan sangat bersungguh-sungguh. Ia pun bekerja habis-habisan untuk mengolah pilihan hidupnya itu dan ia berhasil, meskipun ia tidak sempat menyaksikan bahwa ia benar-benar berhasil menggeluti pilihan hidupnya itu karena ajal lebih dahulu menjemputnya.

Banyak orang mengira bahwa Chairil adalah petualang kumuh. Tetapi salah seorang sahabatnya, Asrul sani membantahnya. Chairil selalu berpakaian rapi, meskipun ia seorang bohemian. Kerah kemejanya selalu kaku karena dikanji, bajunya seantiasa disetrika licin. Ia bahkan boleh dikatakan dandy. Chairil memang telah menjadi legenda sastra Indonesia. Ia memang besar karena kesungguhannya bekerja dan memperjuangkan pilihan hidupnya. Semangat inilah yang dapat menjadi teladan bagi generai muda.

Untuk mengenang Chairil Anwar, DKJ memberikan anugerah sastra kepada para sastrawan dan penyair dengan nama Anugerah Sastra Chairil Anwar. Hadiah itu telah diberikan kepada Mochtar Lubis tahun 1992, Sutardji Calzoum Bachri tahun 1998. Chairil Anwar dianggap sebagai pendobrak zaman dan pelopor angkatan ’45

Jumat, 20 Februari 2009


"Bening Advertising" adalah sebuah perusahaan percetakan sederhana yang mampu menangani sekaligus membantu dibidang : Design,Photography,Percetakan,DLL.

MEMBANGUN BANGSA MENOLAK MILITERISME

Membangun Bangsa (Nation) adalah kata kunci dari semangat awal bagian-bagian masyarakat kita menyatukan diri serta memberikan identitas atas dirinya sebagai Indonesia. Dalam perjalanan sejarahnya, identitas itu tidaklah dinaungi oleh nilai-nilai yang sama. Akan tetapi dari waktu ke waktu, saling pengaruh antar bagian dalam bangsa ini ataupun kehidupan global, talah turut menentukan dan membangun watak, nilai serta interprestasi baru atas kebutuhan bangsa.

Kalaupun hari ini kita masih banyak melihat belum secara jelas dirumuskan nilai-nilai pengikat dan menemukan karakter sebagai sebuah Nation, ini tidak terhindar bahwa rumusan itu sendiri masih akan ditentukan oleh perjalanan sejarah yang sedang kita buat hari ini, serta berbagai nilai yang berkembang adalah jalan panjang masa lalu yang diterima secara dipaksakan oleh sebuah kekuatan rezim kekuasaan.

Maka nilai-nilai kebangsaan awal, sebagai semangat dasar merumuskan diri menjadi sebuah bangsa, telah mengalami pendangkalan akibat prilaku dan nilai-nilai kekuasaan itu. Tentu kita kemudian akan berbisaca bagaimana perilaku itu dicerminkan oleh sebuah rezim kekuasaan Orde Baru yang telah memaksakan secara sistematis apa yang kemudian disebut militerisme.

KASUM
Komite Aksi Solidaritas untuk Munir
Committee of Action in Solidarity for Munir

Human Loves Human
KontraS dan 10th Jiffest

Memperingati 60 tahun Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia

Dalam rangka memperingati 60 Tahun dikeluarkannya Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia, KontraS pada Hari HAM Internasional tanggal 10 Desember 2008 meluncurkan kampanye bertema ‘Human Loves Human’. Melalui tema ini, KontraS bersama para ikon pendukung kampanye ‘Human Loves Human’, seperti Nicholas Saputra, Riri Riza, Mira Lesmana, Darbotz (Tembok Bomber a.k.a Bomber Wall), Efek Rumah Kaca, Arie Dagienkz and Arian 13 (Seringai) mengajak masyarakat luas untuk bersama-sama menghadiri Pemutaran Film-film HAM di Human Loves Human Section dari Jakarta International Film Festival [JiFFest] ke-10, yang berlangsung di berbagai lokasi di ibukota mulai dari tanggal 5 sampai dengan 9 Desember 2008.

Tema Human Loves Human dipilih sebagai bagian dari gerakan sosial KontraS yang mengajak seluruh manusia untuk mencintai manusia. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat jembatan pemahaman atas nilai-nilai perbedaan, yang acapkali masih dijadikan alasan utama dari lahirnya bibit kekerasan di Indonesia. Problematika yang masih belum terpecahkan di tengah masyarakat adalah bagaimana kita bisa memahami segala bentuk perbedaan tanpa harus mengurangi segala keperbedaan itu. Berbeda adalah berkah. Perbedaan justru membuat dunia ini lebih indah, karena akan memberikan nuansa toleransi dan cinta kasih yang lebih kuat di tengah nilai-nilai keperbedaan itu sendiri.

Perjuangan untuk melawan kekerasan dan merawat segenap bentuk perbedaan dan kebebasan haruslah bisa dipahami oleh semua pihak. Kami menawarkan cinta, cinta yang luas yang mungkin saja bisa diartikan sebagai bentuk ekspresi layaknya cinta asmara manusia yang bergelora. Cinta manusia yang memiliki definisi maha luas menyentuh nilai-nilai kasih sayang, kerendahan hati, pengorbanan serta keberanian untuk memperjuangkan cinta itu sendiri.

Untuk itu memformulasikannya dalam spirit Human Loves Human, manusia mencintai manusia, manusia mencintai sesamanya. Spirit ini juga ingin mengingatkan kembali bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar menerima perbedaan, peduli kepada sesama khususnya kepada mereka yang lemah. Melalui medium kebudayaan, KontraS berharap makna cinta maha luas ini bisa disampaikan melalui artikulasi universal, melalui bahasa cinta, bahasa kebudayaan, bahasa pengertian; dan KontraS pun berharap Human Loves Human bisa menjadi sebuah inspirasi bagi banyak orang untuk bergerak, menggagas ide besar dan tidak saja menjadi pengharapan bersama, namun juga menjadi kebaikan bersama berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.

Dunia yang lebih baik bagi Indonesia bukanlah sebuah keniscayaan. Gagasan besar ini hanya mungkin dilakukan jika kita bersama-sama sadar untuk melawan kekerasan dalam bentuk apapun dan merawat kebebasan yang sekarang ini sudah kita dapatkan kembali. Membuka diri kepada cinta yang mungkin mulai dilupakan adalah kesempatan yang harus dipergunakan dengan baik, ketika kita sadar bahwa kita mulai kehilangan cinta kepada sesama.

Melalui kampanye Human Loves Human mari kita rayakan keberagaman dan perbedaan secara lebih terbuka, manusiawi dan lebih berbudaya. Alam pikir yang merdeka, bebas dari segala bentuk represi akan membangkitkan artikulasi-artikulasi yang lebih damai dan lebih humanis untuk menjadikan Indonesia sebagai taman yang lebih indah bagi anak cucu kita.

Secara khusus, kami mengajak kawan-kawan untuk menghadiri pemutaran film HAM sebagai bagian dari Jiffest 2008. Mari menikmati film dan membagi harapan bersama.

Salam kemanusiaan,

Judul: Freedom Writers

Sutradara: Richard LaGravenese

Pemain: Hilary Swank, Patrick Dempsey et al.

Produksi: Paramount Pictures

Rilis: 5 Januari 2007, Amerika Serikat

Genre: drama, kriminal

Kisah ini sangat menakjubkan dan mengritik para tenaga pengajar yang kebanyakan melakukan generalisasi pada anak didik. Erin Gruwell telah melakukan pendidikan yang humanis, membebaskan, dan beralaskan kasih. Ini adalah kisah nyata tentang kelas 203, dimana Erin Gruwell melakukan pendidikan yang benar-benar menakjubkan. Gruwell telah mendobrak paradigma pendidikan dan memberi pandangan baru sebagai solusi.

Kelas 203. Ia masih lengang meskipun bel tanda masuk telah berdering. Meja para murid penuh coretan. Beberapa halaman buku pelajaran hilang bekas sobekan. Papan tulis penuh dengan kotoran debu. Penutup jendela kelas rusak. Kelas 203 lebih mirip sebuah bui daripada ruang pendidikan. Mayoritas guru melihat kelas itu sebagai ruang gelap tanpa harapan. Rapor akademik kelas itu merah. Kata “pendidikan” absen dari ruang itu. Yang ada cuma “pendisiplinan.” Satu per satu murid memasuki kelas karena digiring petugas piket sekolah. Mereka harus dipaksa belajar karena mereka tidak memiliki hasrat sedikit pun akan pendidikan. Para guru mengibarkan bendera putih. Para murid akan menghilang satu per satu dari ruang kelas untuk selamanya.

Kelas 203 kontras dengan kelas di seberangnya. Para guru sudah hadir di kelas sebelum jam tatap muka mulai. Ia sudah menuliskan materi pelajaran di papan tulis. Hanya guru dengan predikat teladan mendapatkan izin mengajar di kelas itu. Meja para murid tertata rapi dan bersih dari coretan. Tahun ajaran baru ditandai dengan buku pelajaran baru. Para murid bergegas memasuki kelas begitu bel masuk berbunyi. Ruang kelas itu hanya terbuka bagi para murid dengan rapor akademik istimewa. Mayoritas murid berkulit putih dengan perkecualian segelintir murid dari ras lain. Mereka tak pernah menginjakkan kaki mereka di kelas seberang karena terbentang sekat pemisah di antara keduanya.

Para murid kelas 203 melihat Erin Gruwell, guru baru mereka, dengan tatapan kebencian pada hari-hari pertama tahun ajaran. Mereka memandangnya sebagai sipir bui yang berdiri di depan kelas untuk mendisiplinkan para narapidana sekolah. Ia menjadi bagian dari struktur sekolah yang melihat para murid sebagai barang antik. Ia dianggap sama saja dengan para guru sebelumnya yang selalu mengeluarkan kartu merah untuk mendisiplinkan perilaku mereka. Ia terlibat dalam institusi pendidikan yang terperosok dalam dosa. Profesi guru telah lama hilang dari ruang kelas itu. Gruwell mencita-citakan sebuah rumah pendidikan bagi para muridnya. Rumah pendidikan di atas pondasi guru, murid, administrasi, dan dunia sekitarnya.

Gruwell tidak mulai dengan pelajaran tata bahasa, melainkan tata bangsa Amerika. Sekat pembatas antarmanusia itu tercipta antarruang kelas dan bahkan dalam satu ruang kelas. Para muridnya berasal dari latar belakang imigran, manusia perahu, korban penggusuran, pengedar obat terlarang, pernikahan dini, dan mereka yang terpinggirkan dari komunitasnya. Kelas didesain berdasar sekat-sekat pembatas. Menyeberang sekat menimbulkan ancaman kehidupan bagi penghuni sekat lain. Gruwell mencabut jerat-jerat penyekat itu dari ruang kelas. Ia mendesain ulang kelas itu menjadi jaring-jaring perjumpaan. Ia membuka mata terhadap konteks hidup para muridnya. Ia mendambakan kelas itu berubah dari penjara menjadi rumah. Jika Holocaust adalah nama sebuah sekat masa lalu dalam sejarah dunia, rasialisme adalah sekat modern dalam masyarakat Amerika. Pendidikan tak akan berlangsung selama rasialisme menjadi salah satu pilarnya.

Gruwell mengalami reorientasi atas profesinya sebagai pendidik saat ia membaca fragmen kehidupan para muridnya. Fragmen hidup dalam buku harian itu bergenang air mata. Ketulusan Gruwell dalam mendampingi mereka mengembalikan identitasnya sebagai guru. Drama pendidikan mencapai klimaks ketika Gruwell dan para murid membongkar model pendidikan lama yang deformatif dan mendesain model pendidikan baru yang transformatif. Para guru lain dan dewan sekolah mencecar Gruwell dengan tanggapan pedas, “Kelas 203 adalah kasus khusus yang sulit diterapkan di tingkat pendidikan yang setara. Metode pendidikanmu sangat tidak praktis.” “Saya ingin menyalakan lilin di ruang gelap pendidikan. Saya berani mengambil risiko menerapkan metode pendidikan yang didakwa tidak praktis ini, karena hidup para murid berharga di mata saya sebagai seorang guru,” demikian Gruwell menuliskan dalam buku hariannya.

Simak dan tonton filmnya!